Sabtu, 30 Juni 2012

RESENSIKU *first publish"


Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Judul                             :  Kau, Aku, dan Sepucuk  Angpau Merah
Pengarang                     :  Tere Liye
Cetakan                         :  3, 2012
Design dan Ilustrasi      :  eMTe
Tebal                             :  512 Halaman, 20 cm
Penerbit                         :  Gramedia Pustaka Utama
ISBN                            :  978-979-22-7913-9


Cinta Sepucuk Angpau Merah di atas Sepit
Oleh : Tere Liye

Jujur saja, ini adalah novel pertama yang saya beli dari uang yang keluar dari dompet saya sendiri. Biasanya kalau tidak meminjam ya dibelikan oleh orang lain untuk memenuhi dahaga saya membaca novel. Alasan saya untuk membeli novel ini awalnya karena saya tertarik ingin mengikuti lomba resensi yang diadakan oleh Gramedia Pustaka Utama bekerja sama dengan penulis kawakan Tere Liye.
Dengan sampul yang didominasi warna jingga membuat novel ini semakin terlihat feminim dan melankolis. Yang menarik, ketika saya melihat bagian belakang dan ternyata tidak sepatah kata pun sinopsis tentang kisah dibalik novel ini muncul, membuat keingintahuan saya melonjak.
Rasa penasaran semakin membuncah kala dengan seksama saya memperhatikan detail sampul novel ini. Sebenarnya cerita seperti apa yang diusung oleh sang pengarang dengan menampilkan sosok gadis berpayung yang sedang berdiri di tepian dermaga kecil –terlihat dari adanya beberapa perahu sederhana di tepi sungai. Dan yang membuat saya semakin tertarik adalah rupa sayu sang gadis. Apakah ini cerita roman dramatis yang penuh tragedi? Tidak. Memang tidak sepenuhnya seperti itu. Semua di luar dugaan.
Sungguh, 3 hari saya menyelesaikan novel ini, saya merasa sangat tidak rugi memberikan kesempatan Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah menjadi novel pertama yang saya beli sendiri. Emosi yang dibawa oleh novel karya asli Tere Liye ini mampu membuat saya tertawa terbahak, tersenyum, khawatir, termenung, berkaca-kaca hingga menitikkan air mata silih berganti. Untaian kata-kata dalam setiap kalimatnya selalu mengandung makna.
Walaupun tema cerita yang diangkat bukan tema cinta metropop seperti kebanyakan novel, novel ini sama sekali tidak membosankan. Justru sebaliknya, ini merupakan tema yang ringan dan menarik karena dekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Kearifan lokal penduduk Pontianak kelas menengah bawah seperti keseharian para pengemudi sepit dan penduduk sekitar sungai, perselisihan antarpengemudi akibat aturan dan konflik personal, serta gotong royong diantara mereka menjadi daya tarik tersendiri. Pengarang secara konsekuen menggunakan sudut pandang orang pertama. Dan plot beralur maju yang dibawakannya pun terangkai apik membuat kita semakin mudah memahami alur cerita.
Sederhana dan tidak dibuat-buat, itulah kalimat yang sedikitnya mampu menggambarkan keseluruhan cerita romantis berlatar Sungai Kapuas ini. Borno, bujang dengan hati paling lurus di sepanjang tepian Kapuas adalah nahkoda dalam kisah cinta klasik ini. Dalam kisah ini, Borno ditemani oleh seorang tokoh panutan. Adalah Pak Tua menjadi orang yang selalu Borno tuju kala ia dirundung keragu-raguan. Tokoh Pak Tua sendiri membuat saya betah karena tersihir dengan segala pengetahuan dan petuahnya.
Borno memang beruntung, dia diasuh oleh orang tua yang sangat mulia dan dikelilingi orang-orang yang baik pula. Namun, saat dirinya baru menginjak tahun ke dua belas dalam hidupnya, ia harus merelakan bapak yang paling dia cintai untuk pergi selama-lamanya. Sebelum helaian nafas terakhir beliau berhembus, beliau dengan berbesar hati menyetujui pendonoran jantungnya untuk seorang pasien di RSUD Pontianak. Namun, kejadian yang paling memilukan itulah yang justru menjadi hulu dan hilir kisah cinta Borno.
Waktu berlalu, Borno tumbuh menjadi pemuda mandiri. Selepas dari bangku SMA, ia mencoba mencari pekerjaan. Ia sadar, ekonomi keluarganya tidak akan memungkinkan dirinya untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Mulai dari menjadi seorang buruh di pabrik karet yang bau sampai menjadi penjaga palang masuk kapal feri. Takdir dan nasib memang dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Semenjak menjadi pemeriksa karcis di pelampung –sebutan orang tepian Kapuas untuk kapal Feri—, membuat hidup Borno yang sudah rumit –terutama urusan pekerjaan— menjadi semakin runyam. Hingga akhirnya, dengan berat hati Borno menerima pekerjaan yang paling dia hindari dalam hidupnya namun tetap dijalaninya dengan hati ikhlas dan bersungguh-sungguh. Ya, menjadi pengemudi sepit –perahu khas sungai Kapuas.
Hari-hari menjadi pengemudi sepit tenyata tidaklah buruk. Seminggu menjalani perploncoan dari Bang Togar sang ketua PPSKT (Paguyuban Pengemudi Sepit Kapuas Tercinta) untuk pertama kalinya Borno mengemudikan sepit berpenumpang  –tanpa ditemani Pak Tua. Untuk pertama kalinya pula hatinya merasakan suatu perasaan yang asing pada seorang gadis peranakan cina yang tetap duduk di atas sepitnya walupun penumpang yang lain turun dari sepit karena takut terjungkal ke dalam sungai kapuas di penampilan perdananya mengemudikan sepit.
Surat bersampul merah, dilem rapi, dan tanpa nama yang ditemukan oleh petugas timer di atas sepit tua milik Pak Tua membuat Borno –pengemudi sepit Pak Tua hari itu—penasaran setengah mati. Pemuda ini berpikiran kalau surat ini adalah surat penting yang mungkin terjatuh dari salah seorang penumpangnya. Asumsinya saat itu, surat itu mempunyai kans terbesar untuk dimiliki gadis cina berbaju kurung kuning. Segala usaha dilakukan Borno untuk dapat menemui si gadis. Namun kenyataan lain berbicara saat Borno melihat pengemudi sepit lain membawa surat bersampul merah, dilem rapi, dan tanpa nama yang sama dengan surat yang dia miliki. Dan semakin menohok saja, kala si gadis menegurnya, “Abang Borno, mau angpau? Oh, Abang Borno sudah dapat?”.
Menerima kenyataan pahit bahwa ternyata surat yang dia kira spesial ternyata hanya lah sepucuk angpau beramplop merah tetap tidak menyurutkan “obsesi’ Borno. Hanya untuk sekedar bisa berlama-lama menatap si gadis sendu menawan, Borno berusaha untuk selalu mendapat antrean sepit nomor tiga belas agar sepitnya tepat dinaiki si gadis yang biasa datang ke dermaga pukul 7.15. Sehari lima belas menit, itulah durasi pertemuan Borno dengan Mei, nama gadis yang berhasil membuat Borno kerap bertingkah bodoh.
Tak butuh waktu lama rutinitas itu berlangsung, Mei pergi. Tak lama datang kembali, kemudian pergi lagi dan selalu tanpa penjelasan. Ditambah lagi ketidaksukaan Papa Mei terhadap Borno membuat hidup Borno jungkir balik. Borno kehilangan separuh jiwanya yang ikut pergi bersama Mei ke Surabaya.
Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baik, mungkin kebetulan yang menakjubkan”. (194)
Bagaimana pun usahanya untuk mengejar ataupun melupakan Mei, yang terjadi tak pernah sesuai perkiraannya. Tuhan memang sutradara terbaik. Membiarkan cintanya mengalir layaknya aliran Sungai Kapuas yang akan terus deras mengalir atau kah kering menguap mungkin adalah langkah terbaik. Borno pun bertekad melupakan dalilnya sendiri untuk menjauhi Mei mengingat perbedaan di antara mereka.
Layaknya lautan, cerita cinta mereka juga mengalami pasang-surut. Puncaknya, di suatu sore dengan tiba-tiba dan tanpa alasan yang jelas, Mei meminta agar mereka tidak usah bertemu lagi. Sejak hari itu Mei tanpa kabar. Hal itu membuat Borno frustasi. Berbagai upaya dia lakukan untuk mendapat penjelasan, namun Mei hanya diam. Borno yang terus mendesak meminta penjelasan dari Mei, membuat Mei tak sanggup lagi menghindari Borno, Mei pun meninggalkan Pontianak terbang ke Surabaya dan berharap waktu bisa membuat segalanya jelas.
Setahun semenjak kepergian Mei, Borno dengan bersusah payah untuk dapat beraktivitas seperti biasa. Tetap menjadi bujang dengan hati paling lurus di sepanjang tepian Kapuas. Hingga suatu ketika, bibi penjaga rumah keluarga Mei di Pontianak menemui Borno dan menjadi awal titik terang dari segala keburaman yang terjadi. Baru diketahui Borno, bahwa surat bersampul merah, dilem rapi, dan tanpa nama dahulu bukanlah angpau melainkan memang sebuah surat untuknya yang sengaja dijatuhkan Mei untuknya. Selesai membaca surat itu, teranglah segalanya.
Tahukah kalian, ini adalah sebuah kisah cinta yang tak pernah kita sangka bagaimana alirannya.  Apapun yang terjadi di masa lalu, Borno tak peduli. Masa lalu biarlah berlalu, bukannya tak peduli apa itu “jasmerah”, tapi bagi Borno tak kan ada yang mampu mengubah perasaan pada Mei, dia akan tetap mencintai gadis itu.
Novel ini patut dibaca oleh remaja, khususnya bagi mereka yang sering terbuai dengan janji manis dalam cinta atau sedang patah hati sekalipun. Cinta sejati tak kan pernah mudah. Kisah ini mengajarkan pada kita bahwa cinta tak perlu buaian dan bualan. Akan tetapi cinta itu adalah tindakan. Tak hanya remaja, seorang dewasa pun perlu mengetahui kisah ini. Agar mereka mengingat kembali bagaimana perjuangan mereka hingga bersama orang yang mereka cintai seperti saat ini. Dari kisah ini kita belajar untuk lebih menghargai rasa terindah dan tertinggi yang ditiupkan Tuhan untuk setiap insan di dunia yaitu, cinta.
Pengarang berhasil memperlihatkan bahwa cinta tak akan pernah memperdulikan masa lalu, sekarang, ataupun masa yang akan datang. Cinta hanya peduli pada dirimu yang jujur kapan pun itu. Namun pengarang tidak melulu berkutat dengan romansa cinta, bagaimana hubungan dengan keluarga, sahabat, dan guru, bahkan orang yang belum dikenal pun ditampilkan. Banyak teladan di dalamnya.
Novel ini terlihat sangat penuh dengan adanya beberapa kisah minor lainnya. Walaupun kisah itu mampu membumbui kisah utama dengan baik dan dapat dijadikan teladan, namun jadi terasa terlalu melebar dari plot. Tak adanya ilustrasi bentuk fisik tokoh utama, Borno, juga menjadi satu ketidaknyamanan tersendiri bagi pembaca karena rasa penasaran yang muncul bagaimana perawakan pemuda tangguh itu. Selebihnya, bagaimana pengarang memberikan porsi untuk tiap tokoh dan penokohannya itu sendiri sangat pas.
Dari novel ini, pengarang membuka mata saya, “Cinta selalu saja misterius. Jangan diburu-buru, atau kau akan merusak jalan ceritanya sendiri”. (288)
Saya tersadar bahwa Tuhan selalu memiliki skenario cinta terindah untuk setiap insan. Tak perlu berpikiran yang macam-macam, jangan biarkan hati ini gulana. Berharaplah yang terbaik. Sungguh Tuhan lah yang menentukan akan berepisode pendek atau panjang, akan berakhir bahagia atau tragedi skenario cinta kita.
Pengarang yang lahir dan tumbuh di pedalaman Sumatera, tepatnya di Tandaraja, Palembang, 33 tahun lalu dalam menulis selalu menelurkan arti kerja keras, mungkin karena beliau lahir di lingkungan petani sehingga tulisannya tidak pernah jauh dari makna perjuanganan. Pengarang yang menuliskan asal-muasal nama “Pontianak” juga kekhasan budaya Pontianak membuat novel ini patut diacungi jempol. Karena kini tidak banyak novel yang mengangkat tradisi nusantara. Abang Darwis Tere Liye memang lihai menaik-turunkan mood pembaca dengan detail latar, setting, dan kalimat. Sebuah seni yang sarat pesan moral, ilmu, dan tips bermanfaat.

Sabtu, 19 Mei 2012

Hanya Aku

Takut menyakiti, sangat takut.
Namun, sekarang atau besok, akan tetap menyakiti.
Seribu kata maaf telah terucap.
Ini akan menjadi ke-seribu satu.
Pantaskah?

Rumit memang untuk menafsirkan.
Keyakinan tak ada mendesak kebimbangan.
Sulit untuk jujur, sulit pula untuk berkata tidak.
Diam.
Membiarkan itu terlihat benar.

Tak ingin ada harapan lagi.
Ini bukan lah hal yang baik.
Bukan sesuatu yang bisa dilanjutkan.
Biarkan lah menjadi kenangan.

Tidak sedang memilih.
Karena memang bukan pilihan.
Hanya menarik benang merah.
Mengetahui yang benar.
Menjalani yang semestinya.

Pergi atau bertahan?
Tidak penting saat ini.
Waktu yang akan menjawab.

Kini bukan kamu bukan juga dia.
Hanya aku.

Sabtu, 21 April 2012

New Session

Subhanallah, subhanallah, subhanallah . . . Setelah tiga bulan berjuang melawan segala rasa lelah dan jenuh kini semua terasa lebih ringan. Memang aku belum tahu hasilnya seperti apa, yang terpenting aku sudah berusaha yang terbaik dari diriku untuk itu. Dan apapun hasilnya aku akan tetap bersyukur sama Allah dan senantiasa berkhusnudzon dengan segala apa yang akan terjadi. Sungguh luar biasa kuasa-Nya. Tiga bulan ini aku diberikan pelajaran hidup yang luar biasa. Sebuah hal yang tidak terduga yang kemudian kejadian-kejadian itu membuat,
Aku jadi mengerti apa itu perjuangan . . .
Apa itu pengorbanan . . .
Dan apa itu mimpi . . .

Belum banyak asam-garam kehidupan yang aku rasakan, tapi setidaknya aku mulai mengerti bagaimana menghargai hidupku sendiri. Menghargai apa yang telah dianugerahkan Allah untukku. Karena disadari atau tidak, diluar sana ada banyak orang yang ingin ada di posisiku saat ini.
Tahun ini merupakan langkah awal dari kehidupanku yang sesungguhnya. Apa yang aku perjuangan saat ini akan menentukan arah kelanjutan di hidupku. Jadi aku harus berbuat yang terbaik bukan untuk setiap detail yang ada?
Sekarang atau besok pasti akan selalu ada tantangan, akan selalu ada hal-hal yang mengujiku. Setiap fase yang ada itu pasti punya tingkat kesulitan masing-masing. Tapi entah kenapa, aku sangat lega setelah melewati fase yang satu ini. Ya, aku legaaaaaaaaaaaa banget Ujian Nasional sudah berakhir. itu adalah kelegaan yang paling "exited" buat aku :)

Kalau ingat bagaimana aku merasa sangat tertekan karena Ujian Nasional, aku hanya bisa tersenyum sendiri. Start yang tidak cukup baik dan perubahan peraturan perihal SNMPTN undangan sempat membuatku jatuh. Kemudian aku disadarkan pula dengan sebuah kenyataan pahit bahwa aku tidak cukup berhasil menguasai mata pelajaran IPA dan itu  semakin membuatku tertekan.
Aku berusaha tenang menghadapi semua itu, aku tidak ingin membuat orang lain apalagi orang tuaku khawatir. Namun, ternyata Allah mempunyai rencana lain. Nilai pra-UN pertamaku jauh di luar dugaan. Malu, sedih, bingung, tertekan campur aduk jadi satu. Saat itu aku benar-benar merasa ada di bawah. Aku merasakan apa itu “cobaan hidup”. Tapi itulah bukti kasih sayang Allah padaku. Allah ingin membentukku jadi pribadi yang jauh lebih bersyukur dan mengetahui apa yang sebenarnya aku inginkan. Secara tidak langsung hal itu telah menuntunku untuk menyadari hal-hal yang telah aku sia-siakan 1,5 tahun belakangan ini yang harus segera aku perbaiki.
Diibaratkan orang yang sedang berjalan, saat itu ibarat aku sedang berjalan tertatih karena luka di kakiku. Berusaha menguatkan diri sendiri dan terus berusaha berjalan tegap kembali cukup membutuhkan  ekstra tenaga. Air mata pun terkadang tak bisa ku bendung hingga suatu saat aku biarkan juga seseorang menyeka air mata ini.
Tanpa dia mungkin aku akan lebih lama terjebak dalam “keputusasaanku” sendiri. Setidaknya kehadirannya membuatku lebih berarti pada saat aku terpuruk. Dia menjadi salah satu alasanku untuk tetap bertahan dan berjuang.

Merenungkan sesaat persiapan yang aku lakukan untuk menghadapi UN, aku mengetahui bahwa perjuanganku belum ada apa-apanya dibandingkan orang lain. Yah, tapi setidak-tidaknya aku telah berjuang dengan sangat keras -ukuran dan penilaianku sendiri- untuk menjamah segala tetek bengek UN. Kemudian aku jadi mengerti kenapa banyak kakak-kakakku “histeris” saat mengetahui bahwa mereka baru saja "sekedar" lulus UN.

Tapi sudah lah, itu semua sudah berlalu. Aku telah melewati salah satu fase pendewasaan diriku. Ternyata aku mampu melewati itu dengan lumayan baik –menurutku-. Sebuah pelajaran paling berharga yang aku dapat dari secuil pengalaman hidupku yang lalu, jujurlah pada dirimu sendiri, bagaimana pun keadaannya. Itulah yang paling penting, karena kamu akan mengetahui sebenar-benarnya kemampuan dan potensimu. Jangan sekali-kali kau kalah dengan ego dan gengsimu sendiri.

Big thanks untuk teman-temanku yang luar biasa. Kalian tidak henti-hentinya support aku dengan cara kalian masing-masing. Itu luar biasa.


Sekarang saatnya menatap ke depan! Bersiap untuk jadi pribadi yang luar biasa kawan!!!




 ps. posting pertama di tahun 2012 tepat hari Kartini. I think that's great enough, 210412.

Minggu, 25 Desember 2011

let's cook!!

SAYA INGIN SEKALI MASAK KUE-KUE INI!!!!!

Kue Kering Kopi Susu

http://www.rpkomplit.com/resep-kue-kering-kopi-susu-macam-macam-resep-kue-kering.html

Chocolate Coffee

http://www.resepkomplit.com/resep-chocolate-coffee-resep-kopi-didalam-kue-kering.html

GINGER COOKIES

http://www.resepkomplit.com/resep-ginger-cookies-resep-camilan-penyemarak-natal.html

Cake Coklat Vla Durian

http://www.resepkomplit.com/resep-membuat-cake-coklat-vla-durian.html

Souffle Ayam

http://www.resepkomplit.com/resep-makanan-selingan-aneka-souffle-resep-souffle-ayam.html

 

Adakah yang berkenan untuk memasak bersama saya? :)

My choice is...

Uda lewat satu minggu aku jalanin liburanku...

Well, aku merasa banyak waktu yang ngga aku manfaatin baik-baik. Entah kenapa mood ku tidak pada kondisi yang baik. Dan kalau moodku sudah seperti itu, jangan harap aku akan melakukan sesuatu secara optimal. Jadi, biasanya aku lebih milih untuk tidak melakukannya. Yap, I'am one of a moody people!!!
Sure, aku bener-bener punya niat buat belajar, tapi mau mendekat ke rak buku aja aku uda males. My project in my poem, my novel, my short story, and my essay are realy-realy stagnant! Target buat ngejar setoran pun aku rasa tidak akan terealisasi.
So, my choice is... Still enjoy this holiday and try to focus! Masih ada satu minggu lagi untuk membuat semuanya lebih berarti dan bermakna.


Selama liburan ini, aku memikirkan banyak hal dan banyak "berdikusi" dengan teman-teman. Salah satu topik yang paling membuat gerah adalah persoalan tentang ::foto ijazah:: Sebenarnya aku uda yakin aku bakal tetap make jilbab buat foto, tetapi banyak sekali masukan dari kakak kelas, temen-temen buat lepas jilbab -karena salah satu syaratnya foto ijazah adalah terlihat daun telinga-. Ini bikin aku jadi makin ngga mood.
Aku tahu, kalau di rumah aku memang belum selalu berjilbab, tapi bagiku akan sangat tidak nyaman saat difoto oleh orang yang notabenenya orang asing bagiku, melihatku berpose di depan kamera tanpa ada kain di kepalaku. Dan aku tidak suka itu.
My mom said to me "terserah kamu, kamu nyamannya gimana", nasehat yang justru bikin aku tambah bingung. Tapi ada satu keyakinanku, masa' iya kita mempertahankan kehormatan kita itu sebuah kesalahan?
Allah bersama orang-orang yang setia dengan keyakinannya :)
Finally, my choice is... Saya akan tetap berjilbab

Rabu, 21 Desember 2011

I HAVE A DREAM!

Saya sadar bahwa saya akan segera dihadapkan pada banyak pilihan tentang masa depan. Namun ada satu fokus pilihan yang mulai sekarang telah saya pertimbangkan, yaitu tentang kelanjutan studi saya. Sesungguhnya apa yang akan saya lakukan? Apa yang saya mau? Dan apa yang menjadi kelebihan saya? Menilik riwayat indeks prestasi saya di Sekolah Menengah Atas yang telah dan masih akan saya jalani, saya paham bahwa diri saya ini tidak hebat dalam perhitungan-perhitungan yang harus diselesaikan dengan rumus pasti. Sungguh, yang muncul di benak saya pertama kali adalah suatu program studi dimana saya tidak akan berlama-lama bertemu lagi dengan kimia, fisika, dan matematika. Alam bawah sadar saya telah dengan giat menolak mentah-mentah hasrat saya untuk bergulat dengan mereka lagi. Saya ingat pesan orang tua saya bahwa untuk menjadi orang sukses tidak peduli apa bidang  yang digeluti, tetapi yang terpenting adalah orang itu ahli di bidang yang digelutinya. Mengingat itu, saya merenungkan hal-hal yang membuat saya nyaman terlebih dahulu. Sehingga saya akan merasa tidak terbebani untuk mempelajarinya lebih dalam. Lalu saya pun tertarik untuk menjatuhkan pilihan pada program studi Ilmu Hubungan Internasional.
Prospek kerjanya yang luas dan semakin dicari, seperti menjadi Pejabat Diplomat, Duta Besar, Pejabat Konsuler, Akademisi, Politisi, Birokrat, Peneliti atau Analisis, Jurnalis, Liaison Officer, Banker, Pebisnis Transnasional, Konsultan Internasional, Public Relations, Presenter, Event Organizer, dan masih banyak lagi adalah satu dari seribu alasan mengapa saya memilih Ilmu Hubungan Internasional. Selain itu, peluang kerjanya hampir semuanya membutuhkan keahlian publik speaking dimana sejak saya menginjakkan kaki di bangku sekolah, saya sangat appreciate dengan hal itu.
Dan bagaimana dengan Universitas impian saya? Sesungguhnya saya masih dilema mau ambil Universitas Gadjah Mada atau Universitas Airlangga. Pihak Ayah berharap saya melanjutkan di UGM, namun pihak Ibu berharap saya berjuang di UNAIR. Lalu bagaimana dengan saya? Jujur, saya tidak masalah mau melanjutkan di UGM atau UNAIR, yang terpenting itu jalan yang paling baik untuk saya dari Allah. Tetapi mempertimbangkan segala sesuatunya, saya tetap prefer berharap diterima di UGM terlebih dahulu melalui jalur undangan. Tidak munafik, saya sangat membutuhkan penerimaan jalur undangan. Mengapa? Saya takut untuk menghadapi SNMPTN ujian tulis mapel IPS. Itulah sebabnya saya berjuang mati-matian untuk mendapat prestasi di luar akademik sekolah. Dan semoga bekal yang kini saya puna, cukup.
Kalaupun rejeki saya memang tidak disitu, berarti saya akan melanjutkan perjuangan saya di SNMPTN ujian tulis. Karena saya anak IPA, tetapi akan ambil jurusan IPS, jadi saya akan ambil IPC. Dan itu yang membuat saya tidak percaya diri. Apa saya bisa menembus passing grade HI? Apa saya akan  tetap mengambil HI UGM? Sungguh, saya takut sekali. Mempertimbangkan itu, jadi saya akan mengambil HI UNAIR, dimana passing gradenya tidak begitu menjadi momok.
Walaupun Ilmu Hubungan Internasional termasuk bidang studi yang mempunyai banyak peminat, saya tetap optimis akan mampu meraih cita dan asa saya. Orang tua saya mengungkapkan bahwa saya mempunyai modal yang cukup dengan ketertarikanku terhadap Indonesia, terutama pada bidang hukum, sosial, dan politik, serta kemampuan verbalku yang termasuk diatas rata-rata akan membuatku mampu bersaing karena sesuai dengan minat dan bakat saya. *amin ya Allah* Tinggal bagaiman saya memanfaatkan itu semua.
Mimpi terbesar saya untuk karir pasca mendapatkan gelar Sarjana Ilmu Politik (SIP) adalah menjadi seorang diplomat. Diplomat itu sendiri adalah seorang pejabat Dinas Luar Negeri yang melaksanakan kegiatan diplomatik dan konsuler untuk kepentingan bangsa dan negara di negara penerima atau pada organisasi Internasional. Bagiku diplomat adalah peran yang setara dengan peran pahlawan yang berani mati untuk membela negara. Selain itu, dengan menjadi diplomat, saya berpeluang untuk mengunjungi berbagai negara di seluruh belahan dunia, mendapat kesempatan bergaul secara terhormat dengan para pengambil keputusan di negara akreditasi dan diplomat dari berbagai negara, berpenghasilan yang sesuai dengan standar Internasional, dan memiliki immunities, privillages, serta fasilities yang diakui baik dalam Hukum Internasional maupun dalam praktek Internasional.
Karena begitu prestisiusnya profesi diplomat, membuat mekanisme penjaringan Diplomat Indonesia tidak lah mudah. Dibutuhkan lebih dari sekedar penguasaan teori belaka. Seorang diplomat harus pandai bergaul dan mempunyai bekal untuk bergaul serta harus mampu memposisikan diri menjadi bagian dari penyelesaian masalah, mempunyai pencitraan yang baik, memiliki elemen marketing yang tinggi, dan merupakan link and match maker, yaitu penghubung dua negara dan meyakinkan pelaku bisnis di kedua negara untuk bekerja sama. Jadi dibutuhkan wawasan dan pengalaman lebih sebelum menembus pagar besi Kementrian Luar Negeri. Oleh karenanya, selepas dari bangku kuliah saya tidak akan langsung terjun ke dunia diplomatik. Saya ingin berkecimpung terlebih dahulu di dunia bisnis. Seperti bekerja di perusahaan Internasional, di Perbankan Internasional, atau di Perusahaan Multinasional sebagai Konsultan Bursa Efek dan Pasar Modal. Saya ingin menimba ilmu di dunia kerja dahulu dan mempunyai pengalaman hingga saya mempunyai cukup kemampuan untuk menjadi bagian dari pemecah masalah untuk suatu problem solving.
Saya sadar, idealis saya masih sangat tinggi, itulah yang membuat saya masih kekeh dengan hal-hal tinggi itu semua. Tetapi orang hidup tanpa mimpi, tanpa harapan sama saja orang itu mati. Saya tidak tahu 6 bulan ke depan saya berada dimana, saya akan seperti apa, namun satu keyakinan saya, kala saya berjuang dengan jalan yang benar, Allah akan memeluk mimpi dan harapan saya hingga akhirnya Dia akan menempatkan saya di pemberhentian sementara yang tak terduga dan luar biasa indahnya. Bukan kah kita manusia hanya mampu berencana???

I believe, God always have an awesome life way for people who never give up!

Minggu, 18 Desember 2011

SEMESTER 5

Baru kemaren terima raport. Perasaan campur aduk. Marah, sedih, bersyukur, pokoknya nano-nano! Tapi tetap ngucapin "alhamdulillah" buat semuanya.. :)
Terus tiba-tiba pengen aja bikin tabel tentang berapa besar usaha belajar tentang mapel itu, tingkat stres ngadepin mapel itu sampai hasil yang mewarnai raportku. Check this out!

tabel review perjalanan semester 5


Liat hasil kayak gitu bikin aku tambah minder buat jalur undangan.. Secara temen-temen yang lain nilainya jauh lebih melambung! Karena aku bakal ambil jurusan IPS untuk kuliah besok, jadi makin galau liat anak IPS yang nilainya "Subhanallah" :( Sekarang aku cuma bisa berdoa dan pasrah ma Allah. Mau dikasih jalan seperti apa, insyaallah aku ikhlas jalaninnya. Tapi dari hati ku yang paling dalem, "Ya Allah hamba mohon mudahkanlah segalanya, sungguh ku hanya ingin buat orang tuaku bangga dan tidak khawatir",
Aaaaaaaaaaa.....sumpah! Kalau uda di kamar merenung, terus mikir, aku jadi tahut, khawatir, ngga PD dan rasa galau lainnya!
Oke! Believe if God have a good plan, way, and choice! :)